Tampilkan postingan dengan label Ijen Crater. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ijen Crater. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Juli 2013

Sabar dan Murah Hati



Sabar dan murah hati.... grup ini ada setelah kami melakukan serangkaian perjalanan khususnya ke kawah Ijen Banyuwangi.


Kawah Ijen.....
Mendengar nama itu yang terbayang adalah sebuah danau asam berwarna hijau dengan dikelilingi kaldera pasir keemasan yang akan berkilau apabila terkena sinar matahari pagi. Cantik dan eksotis.

Hari masih dini, kami bergegas memasukkan barang-barang ke dalam mobil. Cuaca cerah walaupun angin yang bertiup dari Australia ini cukup membuat kami harus merapatkan jaket sampai ke leher. Kami harus sampai pelabuhan Gilimanuk sebelum pukul 6 pagi kalau tidak ingin antri dengan bis dan truk. Tepat pukul 2 kami berangkat. Diluar masih gelap tetapi sudah banyak kendaraan dari arah berlawanan, artinya akan banyak kendaraan di pelabuhan nanti. Semoga tidak harus menunggu lama untuk naik kapal. Alunan musik jazz menemani sepanjang perjalanan menuju pelabuhan yang memakan waktu kurang lebih 3 jam ini. Sesekali diselingi candaan dan obrolan ringan.


Tak terasa terlihat sudah lampu-lampu berderet didepan kami. Akhirnya sampai juga. Setelah diperiksa surat dan identitas, kami segera membeli tiket menuju kapal. Pukul 5 pagi waktu Bali dan satu jam kedepan kita sudah ada di pulau Jawa dengan jam yang sama. Kumandang azan subuh menyambut kami di pelabuhan Ketapang. Cukup lama kapal ini merapat ke pelabuhan. Antri..........
Untuk menghilangkan kantuk kami menuju ke dek, langit sudah sedikit terang. Subhanaallah alangkah indahnya pemandangan ini..matahari mulai terbit jingga kekuningan di ufuk timur. Penuh rasa syukur kami panjatkan mudah-mudahan esok masih bisa kami nikmati. Tak ketinggalan jeprat jepret sana sini kamera dan handphone mengabadikan.


Sampai di seberang kami mampir dikedai makanan, sedikit sarapan dan kopi untuk mengembalikan energi. Jalan yang kami tempuh ada dua rute. Banyuwangi-Licin-Ijen atau Banyuwangi-Situbondo-Bondowoso-Ijen. Rute pertama hanya memakan waktu 2 jam dengan beberapa tanjakan ekstrim (menurut kami mengingat sang supir kurang berpengalaman). Rute kedua jauh memang karena harus memutar dan juga memakan waktu 4-5 jam, tetapi aman dengan sedikit tanjakan. Setelah istirahat satu jam kami melanjutkan perjalanan dengan mengambil rute kedua.

Sedikit demi sedikit udara mulai hangat, nyaman rasanya kalau bisa memejamkan mata barang sebentar. Jalanan sudah mulai ramai dengan kendaraan besar dari dan menuju pelabuhan. Tidak macet tetapi agak tersendat dengan adanya beberapa lubang jalan dan "polisi cepek" alias penduduk lokal yang berusaha mengais rejeki dengan meminta seribu duaribu dari mobil-mobil yang melintas dengan alasan mobil mogok. Hutan jati atau yang dikenal dengan taman baluran sudah terlewati, kelokan-kelokan tajam habis sudah tinggal jalan lurus membosankan pembawa kantuk. Musik berubah dari jazz menjadi hip hop....ayo semangat...

Di Situbondo kami belok ke kiri menuju Bondowoso. Jarum jam menunjukan pukul 8.15 pagi tetapi kok rasanya perut minta diisi dengan yang lebih padat. Sulit mencari warung makanan di daerah ini, waktu terasa lebih lambat. Semua menoleh ke kanan kiri siapa tahu ada tempat berjudul makanan yang buka, apa aja. Beruntung setelah mengisi bensin di pom kami melihat kedai makanan. Entah apa menunya yang penting halal dan bersih. Kami memesan ayam goreng, tempe dan tahu. Segelas air teh menghangatkan perut. Kedai ini terlihat biasa saja dengan etalase sederhana tetapi rasanya mantap dan harganya tergolong murah. Kami membungkus tahu goreng untuk diperjalanan, sebenarnya untuk camilan di penginapan (hehehe). Pengalaman sebelumnya ketika kami kesana agak sulit mencari makanan.

Setengah jam dari kedai di jalan Situbondo-bondowoso kami belok kiri masuk ke Jalan Raya Ijen. Jalannya lumayan bagus, beraspal tetapi tidak terlalu lebar. Melewati beberapa perkebunan tebu dan sawah penduduk. Indah, tenang, damai juga agak terpencil. Jalanan mulai berbelok dan sedikit menanjak, memasuki hutan jati udara berubah sejuk. Kami membuka jendela dan mematikan ac, hhhhh segarnya udara pegunungan. Sesekali kami melewati atau dilewati mobil pick up pengangkut sayuran.

Diujung hutan jati yang ternyata kawasan pemerintah itu kami memasuki perkebunan kopi rakyat. Biji-biji kopi sebagian mulai memerah sebagian lagi sudah dipanen. Terlihat perkebunan ini seperti sudah tua dan memerlukan penanaman baru, sepertinya hasilnya juga tidak terlalu bagus dengan banyaknya biji yang dibiarkan berjatuhan. Dari pemandangan pohon kopi beralih ke pohon paku raksasa dikiri kanan jalan dilengkapi jurang dan dinding tanah berlumut. Menandakan kami sudah hampir dipuncak gunung. Tak jauh dari sana ada pos penjagaan pintu satu perkebunan kawasan Kalisat Jampit. Nomor mobil dan nama kami dicatat juga diharuskan memberikan sumbangan sukarela. Sambil memberikan informasi kami menikmati pemandangan puncak gunung dan tentu saja kedai kopi disana menghentikan kami.


Menikmati segelas kopi asli perkebunan rakyat membangunkan syaraf yang hampir tertidur. Setelah selama 8 jam terjaga dengan antusias dan semangat kopi membuat kami ingin secepatnya sampai di penginapan. Arabica homestay tujuan kami, tidak jauh dari pos penjagaan.


Penginapan ini bersih, ada musholla, beberapa pilihan kamar dengan harga yang bervariasi ( Rp.120.000,- s/d Rp.280.000,-) serta air panas. Terbayang segarnya badan setelah mandi  dan bantal putih empuk membuat kami bergegas ke meja resepsionis. "Aduh maaf kamar penuh semua"... lemas rasanya badan mendengar jawaban ini. Hanya ada dua penginapan di kawasan ijen yang terbagi dalam dua perkebunan tetapi apabila disini penuh maka dipastikan di penginapan yang lain juga penuh.

Bagi para backpacker atau petualang tempat yang paling nyaman adalah Paltuding atau pos pintu masuk terakhir di kaki gunung Ijen. Mereka mendirikan tenda untuk bermalam. Tersedia juga toilet umum yang apabila persediaan air habis akan ditutup. Buat mereka semua bukan masalah.

Tetapi bagi kami yang "berumur tidak muda lagi" tentu saja masalah. Toilet adalah kebutuhan nomor satu. Terdorong hal ini membuat kami membuka mbah google......akhirnya kami menemukan salah satu artikel yang mengatakan bahwa rumah penduduk disekitar bisa disewa. Tanpa membuang waktu kami langsung mencari tanda-tanda rumah bisa disewa. Dengan bantuan satpam hotel akhirnya kami menemukan tempat.


Rumah sehat namanya dengan kamar sederhana dan lantai semen model tempo dulu, bersih dan ada air panas. Cukup dengan membayar 300 ribu saja kami bisa menempati satu rumah utuh dengan dua kamar tidur. Halamannya penuh dengan tumbuhan sayur dan obat. Kami hanya memakai hingga pukul 10 malam karena akan segera mendaki Ijen untuk mengejar api biru yang fenomental dan terkenal hingga manca negara ( Konon fenomena api biru ini hanya ada dua di dunia ).

Waktu istirahat kami tidak sampai 10 jam, sayangnya setelah mandi ternyata badan menjadi segar untuk berpetualang disekitar desa. Agar mata mengantuk kami memutuskan berkeliling dikebun strawberry milik perkebunan. Luasnya lahan membuat kami penasaran apalagi diisi dengan tanaman bunga warna warni diselingi sayur berbagai macam. 




Capek berjalan kesana kemari kami kembali ke rumah sehat, meminum segelas teh hasil perkebunan lokal dengan kualitas nomor satu. Teh beraroma vanilla benar-benar melemaskan otot dan syaraf yang tegang. Sayangnya teh tersebut tidak dijual di dalam negeri, wah harus keluar negeri dong untuk meminum teh tanah sendiri. Sang empunya rumah tersenyum mendengar pertanyaan kami. Satu persatu kami tertidur juga.

Pukul sepuluh malam kami bersiap-siap melanjutkan perjalanan. Tidur yang cuma sebentar cukup menghilangkan rasa melayang. Kabut tebal menyambut kami, udara 10 derajat celcius membuat napas berasap. Masing-masing kami memakai sarung tangan dan syal tebal, jaket benar-benar dirapatkan hingga kepala, tidak lupa sepatu dan kaos kaki hingga ke lutut. Brrrr.....suara gigi gemelutuk, asli inilah udara pegunungan. Mobil melaju pelan, kabut menghalangi pandangan kami. Melewati dua pos penjagaan dan hutan gelap gulita akhirnya sampai juga di Paltuding pos akhir menuju kawah.

Pos Paltuding

Kami disambut oleh Pak Rofik yang telah kami kenal  pada kunjungan sebelumnya. Warung kopi dan mi menjadi pos satu dalam misi kami. Berkumpul membicarakan rencana selanjutnya bersama Pak Rofik sambil menghangatkan badan di perapian kayu bakar. Menunggu pukul 12 malam agar sampai di puncak pukul 3 pagi, waktu yang tepat untuk melihat api biru.

Api biru yang fenomental, satu dari dua tempat di dunia

Sabar dan murah hati, adalah sebuah grup yang dibentuk sebagai wadah bagi orang-orang yang ingin berbagi terhadap sesama. Kenapa kawah Ijen? Sengaja kami pilih ijen karena pada perjalanan sebelumnya begitu miris kami melihat para penambang belerang yang bekerja mulai pukul 2 pagi mengumpulkan belereng 50-80 kg dengan hanya seharga 780 rupiah saja sekilonya. Itupun hanya dapat mereka lakukan seminggu dua kali mengingat medan yang sangat berat.

Mereka harus mendaki sejauh 3 km dan menuruni bibir kawah sedalam 300 m kemudian kembali naik dengan membawa beban 50-80 kg setinggi 300 m dan menuruni gunung 3 km menuju tempat timbangan terakhir. Benar-benar perjuangan untuk hidup.

Menempuh 3 km dengan kemiringan 30 sampai 60 derajat

Kedalaman 300 meter dari dasar ke bibir kawah dengan kemiringan 60 derajat

Belerang ini beratnya 90 kg

Dasar kawah tempat menambang belerang

Diperlukan kesabaran yang besar untuk itu. Sabar dalam menjalani kerasnya hidup dan ikhlas menerima hasilnya.

Adalah para donatur yang membawa kami sampai dalam misi ini. Orang-orang yang dengan murah hati menyisihkan sebagian hartanya untuk sesama. Berbagi sedikit kebahagiaan. Setelah hampir sebulan akhirnya kami bisa mengumpulkan setidaknya 250 amplop bagi para penambang disana. Dengan jumlah yang tidak dapat kami sebutkan per amplopnya tetapi cukup untuk mendapatkan senyuman mereka.



Direncanakan pembagian sedekah tersebut paling tepat di pos penimbangan atas pada pukul 6 pagi. Setelah sebelumnya membagi kepada penambang yang bertugas di dasar kawah. Artinya kami harus turun kesana di gelapnya malam.

Bismillahirrohmanirrohiim....pendakian dimulai. Disambut dengan gerimis tipis tidak menyurutkan niat kami. Lampu senter kecil yang dibawa Pak Rofik menemani pendakian. Satu kilometer pertama cukup mudah dilalui dengan kemiringan 30 derajat. Kabut menutupi jalan kami selanjutnya. Jalan mulai berbelok-belok, curam dan mendaki. Masuk ke kilometer kedua, kemiringan 60 derajat.


Napas mulai terengah-engah, beberapa kali berhenti mengumpulkan oksigen. Masker tidak membantu. Sudah satu jam kami berjalan dengan ransel yang lumayan berat. Sebatang tongkat kayu membantu menahan beban tubuh, beberapa kali memandang ke langit yang bertabur bintang. Sepertinya dekat sekali jarak bintang diatas kami. Maha besar Allah, sungguh agung karya-Nya. Tak berhenti kami memuji keindahan malam ini.
"Empat ratus meter lagi"...Pak Rofik berseru memberi semangat kalau sedikit lagi akhir dari kilometer kedua. Ada pos penimbangan belerang disana.

Para pejuang keluarga

Pos penimbangan pertama, 2 km dari Paltuding

Bangunan sederhana yang terbuat dari kayu terlihat samar-samar di kegelapan malam. Agak menanjak dengan beberapa anak tangga. Dan yap sampai juga....kursi panjang di teras menjadi tujuan kami. Sedikit meluruskan kaki untuk melemaskan otot yang mulai tegang. Beberapa pendaki dibelakang kami mulai berdatangan, terhuyung-huyung mencari tempat duduk. Sudah pukul 2 pagi, masih satu kilometer lagi menuju bibir kawah, kami beranjak bangun dari kenyamanan. Didepan jalan sedikit licin, harus benar-benar menjaga posisi tubuh agar tidak tergelincir. Jalan terus menanjak dan makin menanjak sampai tiba-tiba datang angin kencang disertai gerimis kecil. Menurut Pak Rofik perubahan cuaca seperti ini sudah biasa, sebentar lagi juga hilang terbawa angin katanya.

Kami terus berjalan menembus kabut dan hujan yang tidak juga berhenti. Sesekali bertemu dengan penambang yang sudah mulai memikul belerang menuju pos penimbangan.



"Dikawah tidak hujan" kata penambang ketika kami bertanya, syukurlah kalau begitu. Bau asap belerang mulai tercium samar-samar. Angin semakin kencang bertiup ke segala arah membawa hujan yang terkadang lebat lalu hilang. Suhu udara menurun drastis, lima derajat celcius. Kabut mulai menipis dan perlahan memperlihatkan jalanan datar dan tidak berdinding dikiri kanan kami. Sejenak kami berhenti menyadari bahwa posisi berdiri sekarang ditengah kaldera pasir. Kami sudah sampai....



Fantastis...dikegelapan malam dan dengan posisi kami yang jauh diatas, api biru tetap terlihat. Tidak lama kami menikmati pemandangan tiba-tiba hujan jatuh dengan lebatnya. Tidak ada tempat berteduh kecuali harus turun ke dasar kawah. Resiko yang terlalu besar dengan jarak pandang tertutup hujan dan diselingi kabut. Hanya dinding kawah yang bisa melindungi kami dari angin kencang atau paling tidak batu besar. Sambil berjongkok diantara batu dan dinding kaldera kami menutup ransel dengan plastik. Berharap semua gadget dan kamera tidak basah. Didekat kami ada sekelompok fotografer profesional yang telah tiba sebelum kami. Mereka memasang terpal plastik sebagai atap untuk melindungi kamera, benar-benar mempersiapkan kondisi seperti sekarang. Sehari sebelumnya kejadian yang menimpa kami juga terjadi pada mereka sehingga gagal mendapatkan foto.

Setengah jam sudah berlalu, air hujan terasa sudah menembus kulit. Dingin menusuk tulang dan sepertinya hujan tidak akan berhenti. Bangkit dari persembunyian, kami putuskan untuk kembali ke pos penimbangan sebelum terlanjur basah kuyup. Berjalan satu kilometer terasa lebih lama dengan hujan mengguyur kami. Kaos kaki mulai basah dan terasa dingin, tulang dan sendi kaki seperti tertusuk jarum. Sarung tangan tidak mampu lagi melindungi, jari-jari tangan mati rasa.

Dari jauh sudah terdengar suara ramai. Pos penimbangan, bangunan kecil ini seperti gula yang dikerubungi semut. Semua pendaki berusaha berteduh dan berlindung dari angin disana. Beruntung Pak Rofik yang sebenarnya salah satu penambang, membawa kami ke tempat mereka biasa menghangatkan diri. Asap tebal kayu bakar memenuhi ruang 3x3 meter, dada terasa sesak dan mata jangan ditanya perihnya. Kami berjongkok didepan api, berusaha mengeringkan pakaian dan menghangatkan badan. Semakin banyak pendaki memasuki ruangan seiring semakin lebatnya hujan pagi hari itu.

Pak Rofik dengan kaos imuslim salah satu donatur dalam grup Sabar dan Murah Hati

Suara ayam jantan hutan terdengar samar-samar. Rupanya beberapa dari kami bisa tertidur sambil berjongkok ditengah kobaran api....ck ck ck. Setengah tersadar kami berjalan keluar, masih gerimis. Hari mulai terang para penambang sudah mulai antri di pos untuk menimbang belerang.

Para pengunjung yang kedinginan

Pukul 6 pagi penambang mulai menimbang belerang

Luar biasa semangat para penambang itu, ditengah hujan lebat dan angin kencang mereka tetap turun ke kawah dan menambang. Sesuatu yang tidak berani kami lakukan tadi malam. Jangankan membawa belerang, menuruni bibir kawah saja sudah ngeri. Kagum  melihat perjuangan mereka. Dari sini kami bisa melihat bahwa sebenarnya sedekah yang akan kami berikan bukan untuk mengasihani tetapi untuk membantu dan menghargai perjuangan yang telah mereka lakukan untuk hidup.

Jam 6 pagi pos penimbangan mulai buka. Kedai kecil yang baru di cat hijau ini juga menjual minuman panas dan kue-kue kecil, biasanya para pendaki menjadikan pos ini sebagai tempat beristirahat. Sayangnya tidak tersedia toilet padahal kawah Ijen ini sudah menjadi tempat pariwisata. Mereka bisa buang air dimana saja asal tidak terlihat. Petugas di pos penimbangan mempersilahkan memakai meja dan kursi didalam setelah Pak Rofik menjelaskan maksud kami. Segelas teh manis panas membantu menambah pembakaran tubuh.

Penambang pertama masuk, agak takut-takut ketika ditanya usia dan jumlah keluarganya.  Tetapi kemudian tersenyum ketika menerima amplop dari kami.



Tak beberapa lama kemudian antrian mulai terbentuk, kami dibantu oleh Pak Rudi sebagai koordinator untuk mencatat dan mengenali para penambang agar tidak terjadi dua kali pembagian. Pakaian yang basah, dinginnya badan dan sakitnya tulang persendian mendadak hilang begitu melihat senyum dan mendapatkan doa dari mereka. "...mudah-mudahan terus diberi rejeki yang banyak" katanya. Amin...semoga para donatur kami mendapatkan berkah dan rejeki yang melimpah.

Setelah selesai membagikan kepada para penambang di bagian atas, kami memutuskan untuk turun ke Paltuding dan menunggu di pos timbangan bawah. Syukur-syukur kalau kami bertemu mereka di perjalanan turun.



Pukul sepuluh pagi kami berangkat, beberapa kali kami bertemu penambang yang baru datang. Sudah lebih dari dua ratus amplop terbagikan. Puas mengetahui misi yang walaupun penuh dengan perjuangan berat akhirnya berhasil. Sampai di pos Paltuding kami masih membagikan amplop sampai benar-benar tidak ada satupun penambang terlewat. 


Menutup perjalanan kami sempatkan untuk meminum segelas kopi di Paltuding sebelum meluncur ke pelabuhan. Letih dan kantuk mulai menyerang, untuk menghemat waktu kami memilih rute pertama untuk kembali ke Bali. Sambil mengemasi dan memasukkan barang  ke mobil tidak lupa kami berpose bersama.



Selamat tinggal kawah Ijen....
Walaupun kali ini kami tidak dapat melihat api biru dari dekat tetapi lain waktu pasti bisa. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, jalanan terus  menurun dan berbelok melewati perkebunan dan beberapa peternakan lebah penduduk yang katanya adalah lebah hutan. Kami tidak sempat berhenti karena harus mengejar waktu ke pelabuhan.

Tak terasa sampai sudah di kota Banyuwangi. Memasuki pintu pelabuhan yang kami khawatirkan terjadi.....macet dan antri menuju kapal. Hampir 2 jam sebelum akhirnya masuk ke dalam ferry.



Kapal yang cukup besar untuk menahan besarnya gelombang sore itu. Bergegas kami naik ke dek penumpang untuk mencari pemijat refleksi yang biasa berkeliling di kapal. Lelah mencari tidak disangka muncul dengan sendirinya. Mempersiapkan posisi yang nyaman akhirnya masing-masing dari kami tertidur sampai tidak merasakan gelombang besar menggoyang kapal kami. Kepuasan terpancar dari wajah kami yang letih.

Terimakasih kami ucapkan kepada para donatur yang memungkinkan misi ini. Terimakasih juga kepada para sukarelawan yang mendukung misi Peduli Ijen 2013. Terimakasih kepada suamiku sebagai pelopor grup dan Photographer yang mendokumentasikan perjalanan. Dan terimakasih kepada para penambang yang telah membuat kami, khususnya saya merasakan arti perjuangan hidup sebenarnya. Arti kesabaran yang tiada batasnya dan betapa besar kami harus bersyukur dengan kehidupan kami.

by : Gita Fadhil
Juli 7, 2013